Internet of Things (IoT) Conference 2016 – Bogor

Internet of Things (IoT) Conference 2016 – Bogor

Kali ini saya akan memberikan sedikit kesimpulan tentang event #IoTConference2016 di Bogor yang diadakan oleh dicoding pada tanggal 23 April 2016 kemarin (www.dicoding.com/events/100). Tapi sebelum saya menjelaskan event ini lebih lanjut, inilah pengertian IoT:

Internet of Things, atau dikenal juga dengan singkatan IoT, merupakan sebuah konsep yang bertujuan untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus-menerus. Adapun kemampuan seperti berbagi data, remote control, dan sebagainya, termasuk juga pada benda di dunia nyata. Contohnya bahan pangan, elektronik, koleksi, peralatan apa saja, termasuk benda hidup yang semuanya tersambung ke jaringan lokal dan global melalui sensor yang tertanam dan selalu aktif.

Okee, langsung saja, sebelumnya saya akan memperkenalkan para narasumber- narasumber yang mengisi event #IoTConference2016 ini. Untuk teman-teman yang sering mengikuti event-event developer ataupun seminar-seminar IT, pasti sudah tidak asing lagi dengan orang-orang hebat di bawah ini. Ya, mereka adalah orang-orang yang selalu men-support dan siap mewadahi para developers baik untuk belajar ataupun membantu para developers untuk siap naik tingkat ke level berikutnya.

Berikut nama-namanya:

  • Andri Yadi – CEO DycodeX
  • Martin Kurniadi – CEO Geeknesia
  • Firstman Marpaung – Intel Indonesia
  • Irsan Suryadi Saputra – IBM Indonesia
  • Cornelius Julius – XL Axiata
  • Aulia Faqih – CEO Dirakit & Intel Blackbelt Indonesia
  • Rendratoro – Intel IoT Innovator
  • Muhammad Ibnu Fadhil – Founder Gravicode

 

Gambar 1.

Gambar 1.

Bagaimana? Pastinya acara ini akan jadi sangat menarik untuk para teman-teman makers (sebutan untuk developer IoT) ataupun para pemula yang baru mau mendalami dunia IoT.

Acara ini terbagi menjadi 3 sesi, yang pertama sesi Introduction of IoT, sesi kedua adalah Talkshow dan yang terakhir adalah sesi Live Demo.

 

Sesi 1

Martin Kurniadi – CEO Geeknesia

Gambar 2.

Gambar 2.

Bisa dilihat pada gambar di atas, itu adalah tabel perbandingan antara pertumbuhan populasi manusia dengan pertumbuhan Smart Object.

Pada tahun 2010, setidaknya setiap 1 orang pasti mempunyai 2 Smart Object, baik itu Smart Phone ataupun yang lainnya. Pada tahun 2015, setidaknya 1 orang pasti mempunyai 4 Smart Object. Bisa kita ketahui saat ini memang sudah sangat jelas terlihat perkembangan dari penggunaan Smart Object, dan itu tidak terbatas pada perangkat wearable saja. Pada tahun 2020, menurut Cisco, setidaknya 1 orang pasti mempunyai ataupun menggunakan 6 Smart Object. Dari data di atas, tentunya bisa terlihat begitu besar market IoT untuk beberapa tahun yang akan datang.

Gambar 3.

Gambar 3.

Geeknesia merupakan sebuah platform cloud yang menyediakan sebuah layanan back-end untuk para makers. Melalui Geeknesia, para makers tidak perlu dipusingkan dengan aspek software dan back-end cloud yang biasanya sangat diperlukan untuk pengembangan project IoT.

Gambar 4.

Gambar 4.

Fasilitas lain dari Geeknesia adalah, Crowdfunding.

Crowdfunding adalah proses mengumpulkan dana untuk memulai suatu project atau bisnis, yang sumber dananya berasal dari sejumlah besar orang (Crowd), pengumpulannya memiliki batas waktu tertentu, misalnya 30 – 60 hari, dan prosesnya dilakukan melalui online platform.iot.co.id

Jadi, crowdfunding adalah sebuah sistem patungan untuk membuat sebuah project IoT. Sehingga para makers yang bermasalah terkait pendanaan bisa memanfaatkan fasilitas ini dengan cara membuat konsep project yang jelas agar bisa ditawarkan ke pasar dan menerima suntikan dana sebagai modal awal untuk mengembangkan projectnya lebih lanjut.

Gambar 5.

Gambar 5.

Jadi, buat kalian para makers yang penasaran dengan Geeknesia, silahkan kunjungi website resminya disini.

Baca juga:  Imagine Cup 2016 Roadshow – Universitas Gunadarma

 

Andri Yadi – CEO DycodeX

Pada sesi ini, bapak Andri lebih banyak menampilkan demo-demo simple terkait produk IoT dan memberikan penjelasan tentang IoT dari perspektif Software Developer.

Gambar 6.

Salah satu demo yang dijelaskan adalah tentang Wio Link. Wio Link ini adalah sebuah development board ESP8266 yang berbasis open-source dengan sistem plug-n-play untuk mempermudah pengembangan project-project IoT. Wio Link ini sangat di rekomendasikan untuk para pemula yang tertarik dengan IoT karena tidak membutuhkan skill untuk men-solder ataupun skill programming. Untuk pengembangan lebih lanjut, para developers dan makers dapat memanfaatkan API yang sudah tersedia dari Wio Link.

Gambar 7.

Gambar 7.

Untuk lebih jelasnya, teman-teman bisa langsung mengunjungi halaman resminya disini.

*Bagi yang ingin mengetahui detail materi secara lengkap yang disampaikan oleh bapak Andri Yadi, kalian bisa mengunjungi halaman SlideShare-nya disini.

 

Sesi 2 – Talkshow

Moderator: Narenda Wicaksono (dicoding)

Setelah istirahat sejenak untuk makan siang, acara langsung dilanjutkan ke sesi kedua. Sesi ini akan diisi oleh para narasumber-narasumber dari berbagai lapisan. Pertama, ada bapak Cornelius Julius dari XL Axiata. Kedua, ada nama yang sudah tidak asing lagi untuk teman-teman developer yaitu bapak Firstman Marpaung dari Intel Indonesia. Ketiga, ada bapak Irsan Suryadi Saputra dari IBM Indonesia. Terakhir, dari lapisan pemerintah yang dalam hal ini adalah dari Badan Ekonomi Kreatif Indonesia atau BEKRAF (maaf, saya lupa namanya :D).

Foto 1.

Foto 1.

Berikut sedikit point-point yang dapat saya simpulkan:

Baca juga:  Seminar Nasional: “Being Smart with Smart City”

Produk-produk IoT dari Indonesia masih belum banyak yang muncul di pasaran ataupun terealisasi dengan baik. “Kebanyakan dari makers di Indonesia membuat sebuah project IoT hanya sebagai hobby atau media pembelajaran saja, tapi belum banyak yang naik ke level berikutnya”, kata bapak Firstman. Para pembicara dari berbagai lapisan ini menyatakan siap membantu para makers Indonesia untuk naik level ke dunia Industri atau level Enterprise.

Foto 2.

Foto 2.

Pihak Intel Indonesia selaku penyedia hardware, XL Axiata selaku perusahaan Telco, IBM selaku penyedia Platform dan pihak pemerintah mendukung penuh para makers untuk menciptakan produk-produk IoT di Indonesia. Untuk para teman-teman makers yang bermasalah umumnya terkait pendanaan dalam hal prototyping, kalian bisa membuat sebuah pengajuan untuk mencari bantuan. “Bahkan kami (Intel) siap memberikan kalian development board secara gratis, asalkan kalian komitmen”, ucap bapak Firstman. “Jadi, jangan hanya mengajukan barang atau uang, tapi ketika diberikan kalian malah berhenti di tengah jalan.”, lanjutnya.

Foto 3.

Foto 3.

“Jangan sendiri. Buatlah sebuah tim. Tentunya dengan harga development board yang cukup mahal akan lebih ringan jika kalian patungan dengan beberapa orang. Selain membantu dalam hal keuangan, itu juga membantu kalian dalam pekerjaan kalian untuk membangun sebuah project IoT”, ungkap bapak Irsan dari IBM Indonesia.

Pihak pemerintah dalam hal ini Badan Ekonomi Kreatif Indonesia siap mewadahi para teman-teman makers di Indonesia. BEKRAF juga siap membantu menyampaikan aspirasi-aspirasi teman-teman makers ke menteri-menteri terkait.

Baca juga:  Intel Innovation Day 2015 - Jakarta

 

Sesi 3 – Live Demo

Mungkin tidak banyak yang akan saya ceritakan disini karena ini adalah sesi Live Demo. Demo pertama diisi oleh bapak Aulia Faqih dan bapak Rendra Toro yang mendemokan perangkat-perangkat development board dari Intel, diantaranya adalah Intel Galileo dan Intel Edison. Kemudian dilanjutkan dengan bapak Rendra yang menjelaskan tentang Dirakit. Dirakit adalah sebuah platform untuk para makers yang ingin men-share project mereka untuk orang banyak. Untuk lebih lengkapnya, silahkan kunjungi halaman resminya disini.

Gambar 8.

Gambar 8.

Demo kedua diisi oleh bapak Muhammad Ibnu Fadhil dari Gravicode. Bapak Ibnu menjelaskan penggunaan IoT dengan menggunakan Micorosoft .NET Gadgeteer. Microsoft .NET Gadgeteer adalah toolkit open-source yang dapat digunakan untuk membuat sebuah project IoT dengan memanfaatkan .NET Micro Framework dan Visual Studio 2015, karena ini bersifat OOP (Object-Oriented Programming) kalian bisa dengan mudah melakukan penghubungan dari sensor/actuator ke development board yang kalian gunakan secara visual melalui Visual Studio 2015.

 

Penutup

Setelah melewati acara dari pukul 9 pagi, acara pun selesai pada pukul 5 sore. Di sesi terakhir ini, diadakan sebuah kuis yang berhadiahkan development board Intel Genuino 101. Saya ucapkan selamat kepada 3 peserta yang beruntung. 😀

Foto 4.

Foto 4. “Selfie dengan 300 developers dan makers memang bukan pekerjaan mudah. ‪#‎IoTConference2016‬” – Narenda Wicaksono 😀

Sebelum pulang, ternyata masih dibagikan goodie bag yang berisi hadiah-hadiah menarik. Kebetulan saya sendiri mendapatkan kaos “IoT Bogor” dan flashdisk 16GB. 😀 Terima kasih untuk BEKRAF dan bapak Naren dari Dicoding yang telah menyelenggarakan acara ini. 🙂

*UPDATED. Jun 10th, 2016.

Referensi tambahan:

http://www.iot.co.id/apa-itu-crowdfunding

http://www.seeedstudio.com/wiki/Wio_Link

Foto diambil dari dokumentasi Dicoding.



Leave a Reply

Copyright © 2018 F. Blogs
Proudly powered by WordPress | Theme by WPCRUMBS.
Archives - Terms of Use - Privacy Policy - Disclaimer - Sitemap - Contact